Makna Mimpi Dalam Pengalaman Spiritual Sufi

Dalam proses mencari sebuah kebenaran hakikat dari sebuah perjalanan spiritual yang acapkali dijalankan seorang Salik, niscaya akan menemuk...

Makna Mimpi Dalam Pengalaman Spiritual Sufi

Makna Mimpi Dalam Pengalaman Spiritual Sufi

Dalam proses mencari sebuah kebenaran hakikat dari sebuah perjalanan spiritual yang acapkali dijalankan seorang Salik, niscaya akan menemukan beberapa pengalaman-pengalaman baik mental, spiritual ataupun mistis. Pengalaman ini muncul dalam berbagai bentuk dan pola bisa berupa mimpi sebagai isyarat, bentuk dan simbol-simbol yang membutuhkan suatu penafsiran/interpresasi dari seorang Mursyid yang telah melewati dan merasakan pengalaman spiritual tersebuat.

Lalu, bagaimana kita memaknai simbol-simbol dari mimpi yang dialami seorang Salik tatkala sedang aktif menjalani proses bertarekat?

" Ketahuilah, bahwa para ahli suluk dari kalangan para sufi, ketika mereka sibuk dengan dzikir dan mujahadah, maka akan terungkap suatu keadaan batin (al-ahwal) —mulai dari akhlak insaniyah hingga sifat-sifat hewaniyah— dan semakin memperjelas level spiritual (tingkatan/maqamat) mereka: mulai dari taraqqi (tanjakan/stasiun spiritual), mengasah diri, lalu menyeberang lautan ahwal, hingga mengalami mimpi-mimpi dan kejadian nyata, disebabkan proses pendidikan bagi para murid tarekat dan para pemula; karena segala yang dilihat oleh para pejalan spiritual dalam mimpi atau dalam suatu kejadian, berarti Allah ta’ala menunjukkan tanda-tanda kebesaran-Nya kepadanya. Allah ta’ala berfirman:

﴿ سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ ﴾ سورة فصلت - الآية 53

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di cakrawala” (QS Fusshilat : 53), dan dalam firman lain :

﴿ وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ ﴾ سورة الذاريات - الآية 21

“Dan di dalam diri kalian sendiri, maka apakah kalian tidak melihat?” (QS Adh-Dhuriyah : 21).

Kemudian, ketahuilah bahwa mimpi adalah beragam makna abstrak, kebenaran universal, serta sifat atau karakter psikologis yang dilihat oleh orang yang tertidur setelah panca indra dan kekuatan tubuhnya tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya lantaran ia sedang tertidur; sebab ketika manusia tertidur, indra dan kekuatannya tidak lagi menjalankan fungsinya, sehingga pada saat itu jiwanya terbebas dari ikatan-ikatan dan naik ke alam asal usul (al-‘alam al-ashli), yaitu Arasy, dan di sana ia akan menyaksikan beragam makna abstrak, kebenaran universal, dan sifat-sifat psikologis yang akan muncul di cakrawala dan di dalam jiwa-jiwa (roh) dari dunia unsur-unsur, sebagaimana dikatakan: “Tidak ada hamba laki-laki maupun perempuan yang tidur dalam keadaan suci dan tidurnya terlelap (nyenyak) kecuali jiwanya akan naik ke Arasy”; maka siapa yang tidak terbangun kecuali ia sedang berada di Arasy, maka mimpi itu benar (tidak bohong).

Lalu, ketika jiwa kembali ke dalam tubuhnya, ia mengambil dari kekuatan imajinatifnya segala apa yang dilihat dalam bentuk parsial yang sesuai atau cocok dengan makna, kebenaran, dan sifat-sifat tersebut dalam bentuk imajinasi, karena kekuatan imajinatif terbiasa meniru dan berpindah dari satu hal ke hal lain, serta terbiasa memisahkan hal-hal yang terhubung dan menggabungkan hal-hal yang terpisah. Jika kekuatan imajinatif menggambarkan makna, kebenaran, dan sifat-sifat tersebut dalam bentuk parsial yang sesuai dengan makna, kebenaran, dan sifat-sifat tersebut, maka makna, kebenaran, dan sifat-sifat tersebut akan muncul dengan sendirinya, sehingga tidak memerlukan ekspresi; dan jika ia menggambarkannya dalam bentuk parsial yang tidak sesuai dengan kesatuan-kesatuan tersebut, maka bentuk-bentuk tersebut memerlukan ekspresi yang sesuai dengan hal yang sama dan penafsiran yang benar dalam kenyataan.

Sebagaimana dikatakan Nabi Yusuf a.s.: “Wahai ayahku!, sesungguhnya aku melihat sebelas bintang serta matahari dan bulan; aku melihat benda-benda itu bersujud kepadaku”. Maka ayahnya menafsirkan mimpi itu sesuai dengan kenyataan dan berkata kepada Nabi Yusuf a.s : “ Janganlah engkau menceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu”.

Makna murni dari mimpi itu adalah sikap sujud para saudara Nabi Yusuf a.s, —damai sejahtera atasnya, serta ayahnya dan bibinya—. Namun, daya imajinasinya menggambarkannya dalam bentuk yang tidak sesuai dengan makna murni tersebut, yaitu sujud planet-planet, matahari, dan bulan. Oleh karena itu, ia membutuhkan penjelasan dan penafsiran. Seandainya daya imajinasinya menggambarkan makna murni tersebut —yaitu sujud saudara-saudaranya, ayahnya, dan bibinya— sesuai dengan kenyataan yang terungkap kepadanya tanpa sujudnya bintang-bintang, matahari, dan bulan, ia tidak memerlukan penjelasan dan penafsiran karena hal itu akan terlihat jelas di matanya.

Adapun pengalaman spiritual (yaitu, kejadian mistis saat tenggelam dalam suluk) tersebut terbagi menjadi dua jenis: Jenis pertama: apa yang dilihat oleh orang yang sedang menempuh jalan spiritual di antara tidur dan terjaga, dan hal itu seperti penglihatan yang terlihat dalam mimpi; sebagian di antaranya memerlukan penjelasan, dan sebagian lain tidak .

Jenis kedua: apa yang terungkap (atau tersingkap) pada para pencari jalan spiritual (salik) berupa ilham, isyarat, pesan-pesan gaib, serta cahaya-cahaya inderawi seperti cahaya matahari, bulan, dan sebagainya. Hal ini terjadi ketika jiwa terbebas dari ikatan-ikatan duniawi dan jiwa keluar dari noda khayalan dan imajinasi menuju tingkat keyakinan (maqam yaqin). Pada saat itu, terungkap atau disingkapkan kepada jiwa (ruh) dari alam perintah, yakni keadaan jiwa (ruh) dan keadaannya yang lain, sehingga kejadian (pengalaman spiritual yang dialami) sesuai dengan kenyataan dan terbebas dari selubung khayalan dan imajinasi, karena itu adalah mukasyafah (penglihatan batin) dari Allah ta’ala.

Bagi para pelaku spiritual yang disebut Salik, memiliki khayalan (imajiasi) yang menyerupai penglihatan dan kenyataan, namun bukanlah bagian dari apa yang disebut penglihatan maupun kenyataan dalam makna sebenarnya. Penyebabnya adalah kekuatan imajinasi yang terpancar ke alam khayalan, yang merupakan jembatan (barzah) antara alam perintah (‘alam al-Amr) dan alam ciptaan (‘alam al-Kholq). “alam khayalan yang menjadi jembatan ini –di waktu yang sama- tidaklah nyata; melainkan khayalan palsu yang tidak memiliki dasar.

Selanjutnya, kekuatan imajinasi akan mengambil (data) dari dunia khayalan hal-hal yang tidak memiliki dasar tersebut, lalu memberikannya kepada kekuatan khayalan (al-Quwah al-Wahimah); dan khayalan (al-Wahimah) tersebut dipersepsikan dalam bentuk-bentuk palsu dan wujud-wujud yang tidak benar (tidak nyata). Akibatnya, pemilik khayalan tersebut mengklaim bahwa ia telah melihat gambaran yang benar dan mengungkap hal-hal yang tersembunyi, serta meyakini bahwa gambaran-gambaran tersebut mewakili hal-hal yang tersembunyi, maka sebenarnya terjadi kesalahan dalam khayalan-khayalan ini yang dianggap sebagai kenyataan. Maka itu, wajib bagi orang yang menempuh jalan ini (Salik) agar selalu waspada terhadap bahaya-bahaya ini .

Ketahuilah bahwa mimpi dan pengalaman spiritual merupakan salah satu sarana pendidikan sufi dan pilar perilaku tasawuf, karena Allah ta’ala mengilhami para hamba-Nya melalui mimpi atau kejadian/pengalaman spiritual terhadap sifat-sifat baik dan buruk, serta perbuatan-perbuatan yang benar dan salah, yang dapat mendekatkan mereka kepada-Nya atau menjauhkan mereka dari-Nya. Oleh karena itu, Dia berfirman: “Mimpi yang baik adalah bagian dari empat puluh enam bagian dari kenabian “. Maka mimpi dan pengalaman spiritual merupakan salah satu cara pendidikan sufi dan bimbingan bersuluk, karena para ulama sufi mendidik para pencari kebenaran (salil) melalui kedua hal tersebut dan membawa mereka ke tingkat/maqam mukasyafah dan yaqin. Oleh karena itu, mimpi dan pengalaman spiritual menjadi petunjuk bagi para pencari kebenaran dan bukti/dalil bagi para ahli dzikir yang dibutuhkan untuk mengetahui tingkatan mereka dalam jenjang/maqamat menanjak naik dan menurun jalan sufi ini sebelum mereka mencapai tingkat mukasyafah. Jika mereka telah mencapai tingkatan mukasyafah, mereka tidak lagi membutuhkan mimpi dan pengalaman-pengalaman tersebut, karena pada saat itu mereka memperoleh pengetahuan (makrifat) yang mereka butuhkan dari Allah ta'ala melalui mukasyafah dan ilham dalam keadaan terjaga (sadar).

Ketahuilah bahwa mimpi terbagi menjadi dua bentuk : bentuk yang benar dan yang palsu. Jika mimpi itu berasal dari Allah ta’ala atau dari malaikat, maka ia benar adanya dan disebut mimpi yang baik dan membawa kabar gembira; dan jika berasal dari diri sendiri atau dari setan, maka ia palsu dan disebut khayalan belaka. Dikatakan bahwa mimpi yang baik berasal dari Allah ta’ala, Jika salah seorang dari kalian melihat sesuatu yang baik, maka janganlah menceritakannya kecuali kepada orang yang dicintainya. Dan jika melihat sesuatu yang buruk, maka janganlah menceritakannya, tetapi ludahlah ke arah kiri dan berlindunglah kepada Allah dari setan yang terkutuk dari kejahatan yang dilihatnya, karena hal itu tidak akan membahayakan dirinya .

Nafsu Kamilah Fase Ketujuh Suluk Sufi

Nafsu Kamilah Fase Ketujuh Suluk Sufi

Nafsu Kamilah, jiwa yang sempurna, fase terakhir dari tingakatan (maqamat) sufi.

Fase Ketujuh : Jiwa pada fase ini disebut "Nafsu Kamilah" artinya bersih dan suci, disinilah seorang salik atau hamba Tuhan disebut "Khalifah". Fase ini merupakan manifestasi dari ayat Allah ta'ala : "Ghoiril Maghdhubi 'alaihim wa la al-Dhollin" (QS Al-Fatihah : 7)

Kunci Berakar dari lafadz "QAHAR" dan cabangnya adalah "Hamida Allah" (ِAllah sebagai Tuhan tempat Bergantung)
Tempat  Akhfa, yakni sirul al-Khofa' al-Muthlaq yakni yang menggabungkan dzat, sifat dan af'al di dalam dada; sedangkan di dalam dadanya terdapat klaimat "Laa ilaha Illa Allah" serta "ism al-A'dham", di daalam dahinya terdapat kalimat "Muhamad Rasulullah. fase ini juga disebut maqam irsyad.
Sifat  Nafsu Kamilah dan Maqam al-Ghoutsiyah
Persepsi  Puncak Keagungan yang Dahsyat yang meliputi segala sesuatu

 

Membaca Doa Tawajjuh setelah selesai berzikir

إِلٰهِي اجْعَلْنِي سَالِكًا فِي طَرِيقِ الْعِشْقِ وَالْحَقِّ، وَاجْعَلْنِي فِي ذَاتِكَ الْعَلِيَّةِ، وَاقْهَرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ بِاسْمِ قَهْرِكَ، يَا قَهَّارُ يَا حَمِيدُ يَا اللَّهُ.

"Ya Allah, jadikanlah aku seorang pengembara di jalan cinta dan kebenaran, dan tempatkanlah aku dalam esensi-Mu yang mulia. Hancurkanlah musuh-musuh agama dengan nama kekuasaan-Mu, wahai Yang Maha Kuasa, wahai Yang Patut Dipuji, wahai Allah."

Pengalaman Spiritual (Al-Ahwal) pada fase ini

Pengalaman spiritual yang muncul pada tingkatan (maqam) ini disebut “al-baqa” (kekekalan/keabadian). Seorang pencari kebenaran (salik) menerima bimbingan dari seorang guru yang sempurna sambil mengucapkan, “Ya Qahhar, ya Allah,”

Dan ia menyaksikan sifat-sifat murni dalam perilakunya; misalnya, ia melihat hujan tanpa es dan tanpa kilat, serta cahaya pada tingkatan ini tanpa warna, sehingga ia dapat membedakannya dan melewatinya, dan segala puji bagi Allah ta’ala atas hal itu Penampakan Diri (at-Tajalli adz-Dzati).

Dan bagian ketiga adalah tingkatan kesatuan (ahadiyah), bahwa Allah ta’ala menampakkan diri-Nya dengan Zat yang Mutlak. Penampakan (tajalli) ini adalah tingkatan tertinggi dari tajalli-tajalli yang, dan tidak terikat pada wujud tertentu, serta dalam penampakannya tidak memerlukan kepada manifestasi, karena hal ini termasuk urusan Zat Mutlak yang bebas dari sifat-sifat dan nama-nama. Penampakan ini tidak bertahan lebih dari sekejap, oleh karena itu disebut penampakan kilat karena kemiripannya dengan kilat dalam ketidakabadiannya. Namun demikian, penampakan ini mewariskan kepada yang ditampakkan sifat-sifat yang baik dan ilmu-ilmu duniawi yang tak berujung. Dengan penampakan (tajalli) ini, orang yang menempuh jalan ini akan mendapatkan tauhid yang sederhana dan sejati, yaitu tidak ada yang ada selain Zat, dan ia terlepas dari pandangan dualisme (sekutu) dari segala sisi, ia tidak melihat perbedaan, pertentangan, dan kontradiksi, dan yang tampak bersatu dengan yang tersembunyi, serta yang pertama bersatu dengan yang terakhir, dan hatinya menjadi lebih luas daripada Arsy dan apa yang ada di bawahnya; bahkan jika Arsy diletakkan di salah satu sudut hatinya, ia akan menampungnya.

Ketahuilah bahwa Allah ta’ala memiliki manifestasi (tajalli) lain yang disebut rahasia tajalli, yaitu penampakan setiap asma Allah ta’ala di dalam asma lainnya; dan penampakan setiap sifat dalam sifat lain. Cara manifestasi ini adalah Allah ta’ala menampakkan diri-Nya dengan segala nama dan sifat-Nya dalam esensi keesaan-Nya; dengan manifestasi tersebut, setiap nama menjadi cerminan nama lain dan setiap sifat menjadi cerminan sifat lain, Maka pada saat itu, kaum ahli makrifat (al-‘ārif) menyaksikan dengan cita rasa (dzauq); bahwa setiap asma dan sifat mencakup semua asma dan sifat secara nyata, karena setiap asma dan sifat berada pada tingkatan kesatuan (al-Ahadiyah), yaitu esensi yang mencakup semua asma dan sifat. Maka pada saat itu, setiap asma dan setiap sifat menjadi esensi dari setiap asma dan sifat. Maka orang yang mengetahui melihat setiap asma dalam setiap asma dan setiap sifat dalam setiap sifat dengan penglihatan langsung, dan ia melihat Zat Yang Maha Esa dalam asma- asma dan sifat-sifat dengan penglihatan terperinci, serta melihat asma-asma dan sifat-sifat dalam Zat Yang Maha Esa dengan penglihatan menyeluruh. Oleh karena itu, penglihatan akan kesatuan Zat tidak menghalangi penglihatan akan banyaknya asma dan sifat, dan penglihatan akan banyaknya asma dan sifat tidak menghalangi penglihatan akan kesatuan Zat, karena kemampuannya untuk membedakan kedua penglihatan tersebut dan menjaga kedua sisi pada hukumnya.

Kemudian ketahuilah bahwa kedekatan hamba kepada Allah Yang Maha Tinggi adalah munculnya cahaya dari penampakan Ilahi di dalam hatinya, tanpa warna, tanpa bentuk, tanpa batas, dan tanpa tempat. Dengan cahaya itu, seluruh kekuatan, indra, dan seluruh bagian tubuhnya menjadi terang, sehingga tidak ada satu pun bagian darinya yang tidak mendapatkan bagian dari cahaya tersebut, sesuai dengan firman-Nya: ”Bumi bersinar berkat cahaya Tuhannya” dan seterusnya. Setelah itu, dada menjadi lapang dan hatinya terbuka, sehingga ia memperoleh Islam yang sejati dan iman yang pasti, sehingga ia berada dalam cahaya dari Tuhannya. Kemudian Allah menganugerahinya dengan kewalian, hujjah, karamah, dan amanah, sehingga ia termasuk di antara orang-orang yang “tidak merasa takut dan tidak pula bersedih”

Referensi Tulisan ini :

Judul Risālat al-sulūk al-khādimah li-jamīʻ al-ṭuruq
Penulis al-Dahhān, ʻAbd al-Qādir. al-Ṭāʼī, Muḥummad Rajab,
Penerbit al-Maṭbaʻah al-ʻIlmīyah, halab
Tahun Cetak 1351 [1932/1933]

Nafsu Mardiyah Fase Keenam Suluk Sufi

Nafsu Mardiyah Fase Keenam Suluk Sufi

Nafsu Mardhiyah, adalah fase keenam dari 7 maqamat sufi. Jiwa-jiwa yang membuat salik merasa mendapatkan ridha Allah ta'ala.

Fase Keenam : Jiwa pada fase ini disebut "Nafsu Mardhiyah", sedangkan posisi Salik adalah Najib (pengawas). Fase ini merupakan manifestasi dari ayat Allah ta'ala : "Shirat al-Ladina An'amta 'alaihim" (QS Al-Fatihah : 6)

Kunci Berakar dari lafadz "QAYUM" dan cabangnya adalah "Ahad Allah" (Allah sebagai Dzat yang Maha Tunggal)
Tempat  Sirr Akhfa, yakni sirul al-Sirr terletak di dada
Sifat  Nafsu Mardhiyah
Persepsi  Dzat yang menciptakan langit dan bumi beserta makhluk yang berada di dalamnya, disinilah "Maqam Irsyad" yang menggabungkan 2 latifah haqqiyah dan halqiyah

 

Membaca Doa Tawajjuh setelah selesai berzikir

يَا مَنْ هُوَ قَائِمٌ بِذَاتِهِ، وَكُلُّ شَيْءٍ قَائِمٌ بِهِ، وَلَيْسَ ذٰلِكَ إِلَّا أَنْتَ، يَا إِلٰهِي، اجْعَلْنِي مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ وَالْمُقَرَّبِينَ، يَا قَيُّومُ يَا أَحَدُ يَا اللَّهُ.

"Wahai Yang Maha Mandiri, yang atas-Nya segala sesuatu ada, dan Dialah tak lain adalah Engkau, wahai Tuhanku, jadikanlah aku salah seorang hamba-Mu yang saleh dan dekat kepada-Mu, wahai Yang Abadi, wahai Yang Maha Esa, wahai Allah."

Pengalaman Spiritual (Al-Ahwal) pada fase ini

Fase ini disebut “Tajalli al-Sifat”. Di sini, sang pencari kebenaran (salik) kembali menerima bimbingan dari guru yang sempurna dan mulai menyaksikan dalam perjalanan serta perilakunya jiwa yang sehat, sambil berdoa, “Ya Qayyum, Ya Ahad, Ya Allah.”

Fase ini disebut “Tajalli al-Sifat”. Di sini, sang pencari kebenaran (salik) kembali menerima bimbingan dari guru yang sempurna dan mulai menyaksikan dalam perjalanan serta perilakunya jiwa yang sehat, sambil berdoa, “Ya Qayyum, Ya Ahad, Ya Allah.”

  • Jika ia melihat dalam mimpinya Arasy, Kursi, Lauh, Qalam, atau Malaikat yang dekat dengan Allah ta’ala, hal itu menandakan bahwa pandangannya selalu tertuju pada Tuhan Yang Maha Benar.
  • Jika ia melihat matahari, itu menandakan cahaya-cahaya ruh;
  • Jika ia melihat bulan, itu menandakan cahaya-cahaya akal;
  • Jika ia melihat planet-planet, itu menandakan hilangnya kegelapan;
  • Jika ia melihat kilat, itu menandakan peringatan;
  • Jika ia melihat cahaya-cahaya, kilatan, atau tanda-tanda ilahi, semua itu menandakan ketaatan.
    • Dan penyingkapan asma Allah ta'ala (at-Tajalli al-Asma) dan at-Tajalli as-Sifat ini yang kembali kepada Tuhan yang telah meridhoinya.

      Dan bagian kedua dari tingkatan keilahian, yaitu ketika Allah ta’ala menampakkan diri dengan sifat-sifat-Nya yang hakiki seperti sifat mendengar dan melihat. Pada penampakan tersebut, hamba melepaskan diri dari semua sifat yang fana dan berdiri dengan sifat-sifat yang abadi; sehingga pada saat itu ia tidak melihat dan tidak mendengar kecuali dengan sifat-sifat Allah ta’ala, sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi: “Dan dengan-Ku ia mendengar, dan dengan-Ku ia melihat, dan dengan-Ku ia berbicara” dan sebagainya. Maka penampakan ini adalah penampakan yang tersifat.

      Referensi Tulisan ini :

      Judul Risālat al-sulūk al-khādimah li-jamīʻ al-ṭuruq
      Penulis al-Dahhān, ʻAbd al-Qādir. al-Ṭāʼī, Muḥummad Rajab,
      Penerbit al-Maṭbaʻah al-ʻIlmīyah, halab
      Tahun Cetak 1351 [1932/1933]

Nafsu Radhiyah Fase Kelima Suluk Sufi

Nafsu Radhiyah Fase Kelima Suluk Sufi

Nafsu Radiyah meruapkan fase keempat dari 7 maqamat sufi yang akan dilalui oleh para Salik dalam upaya pencapaian wushul kepada Allah ta'ala

Fase Kelima : Jiwa pada fase ini adalah "Nafsu Muthmainah", sedangkan posisi Salik adalah Naqib al-Nuqaba (mawas diri dari segala mawas). Fase ini merupakan manifestasi dari ayat Allah ta'ala : "Ihdina ash-Shirat al-Mustaqim" (QS Al-Fatihah : 5)

Kunci Berakar dari lafadz "HAY" dan cabangnya adalah "Wahid Allah" (Allah sebagai Dzat yang Maha Esa)
Tempat  Sirr Khofi, yakni sirul al-Sirr terletak diatas susu sebelah kanan
Sifat  Nafsu Radhiyah
Persepsi  Tidak ada Dzat yang Wujud selain Dzat yang suci dari sekutu (latifah Khofi yang bersifat haqqiyah dan Tajallinya bersifat asma'i)

 

Membaca Doa Tawajjuh setelah selesai berzikir

اللَّهُمَّ أَنْتَ الدَّائِمُ الْبَاقِي الَّذِي لَا سَبِيلَ عَلَيْهِ لِلْمَوْتِ وَالْفَنَاءِ، الْمَوْصُوفُ بِالْحَيَاةِ الْأَزَلِيَّةِ الْأَبَدِيَّةِ، أَنْتَ الْحَيُّ الْمَوْجُودُ، اجْعَلْنِي مَوْجُودًا بِنُورِ حَيَاتِكَ وَوَحْدَانِيَّتِكَ، يَا حَيُّ، وَأَحْيِ رُوحِي بِكَ حَيَاةً أَبَدِيَّةً، وَمَتِّعْ سِرِّي بِسِرِّكَ فِي حَضَرَاتِ الشُّهُودِ، وَامْلَأْ قَلْبِي بِالْمَعَارِفِ الرَّبَّانِيَّةِ، وَأَطْلِقْ لِسَانِي بِالْعُلُومِ اللَّدُنِّيَّةِ، يَا حَيُّ يَا اللَّهُ.

"Ya Allah, Engkaulah Yang Abadi, Yang Kekal, yang tak tersentuh oleh kematian dan kehancuran. Engkaulah yang digambarkan dengan kehidupan yang kekal dan abadi. Engkaulah Yang Hidup, Yang Selalu Ada, Jadikanlah aku manifestasi cahaya kehidupan dan keesaan-Mu, wahai Tuhan Yang Hidup, dan hidupkanlah rohku dengan kehidupan abadi bersama-Mu, serta hiburlah rahasia hatiku dengan rahasia-Mu di Hadirat Hri Persaksian, Dan penuhi hatiku dengan ilmu ilahi, dan berikanlah lidahku kemampuan untuk berbicara dengan ilmu-ilmu surgawi, wahai Yang Hidup, wahai Allah."

Pengalaman Spiritual (Al-Ahwal) pada fase ini

Pengalaman spiritual yang muncul dalam pada fse/maqam ini disebut dengan “fana”, di mana sang pencari kebenaran (salik) menerima petunjuk dari guru yang sempurna dengan mengucapkan, “Wahai Dzay Yang Hidup, Wahai Dzat Yang Maha Esa, ia akan menyaksikan sifat-sifat jiwa yang puas (radhiyah) dalam perjalanan sufi dan suluknya.

  • Jika ia melihat dalam mimpinya para malaikat, anak-anak, bidadari, surga, dan hal-hal lain yang setara dari alam atas, hal itu menandakan kesempurnaan akal, kedekatan dengan Allah ta’ala, dan kesempurnaan dalam memperoleh ilmu.
  • Dan jika ia melihat cahaya yang tak berujung, alam semesta yang tak berbatas, terbang di udara, naik ke langit, gurun tanpa pohon maupun batu, serta melintasi bumi dan mengungkap rahasia dan alam bawah, maka semua ini menandakan dominasi sifat spiritual.
  • Dan jika ia melihat malaikat, para nabi (semoga damai besertanya), para ulama, dan orang-orang saleh, maka semua ini menandakan kejernihan jiwanya dan keutamaan sifat-sifatnya

Referensi Tulisan ini :

Judul Risālat al-sulūk al-khādimah li-jamīʻ al-ṭuruq
Penulis al-Dahhān, ʻAbd al-Qādir. al-Ṭāʼī, Muḥummad Rajab,
Penerbit al-Maṭbaʻah al-ʻIlmīyah, halab
Tahun Cetak 1351 [1932/1933]

Nafsu Muthmainah Fase Keempat Suluk Sufi

Nafsu Muthmainah Fase Keempat Suluk Sufi

Fase keempat dari 7 maqamat sufi, "Nafsu Muthmainah", jiwa yang dipenuhi ketenangan, kenyamanan dan ketentraman spiritual.

Fase Keempat : Jiwa pda fase ini adalah "Nafsu Muthmainah", sedangkan posisi Salik adalah Naqib (mawas diri). Fase ini merupakan manifestasi dari ayat Allah ta'ala : "Iyaka Na'budu wa Iyaka asta'in" (QS AL-Fatihah : 4)

Kunci Berakar dari lafadz "HAQ" dan cabangnya adalah "Wahhab Allah" (Allah sebagai Dzat yang Maha Pemberi)
Tempat  Sirr, yakni siirul Wahdaniyah (rahasia Keesaan Tuhan) terletak diatas susu sebelah kiri
Sifat  Nafsu Muthmainah
Persepsi  Tidak ada Dzat yang Wujud selian Allah ta'ala (latifah Sirr yang bersifat haqqiyah dan Tajallinya bersifat af'ali)

 

Membaca Doa Tawajjuh setelah selesai berzikir

اللَّهُمَّ يَا مَنْ ذَاتُهُ دَائِمَةٌ بِذَاتِهِ، لَا يَتَغَيَّرُ أَصْلًا، وَذَاتُهُ مُنَزَّهَةٌ عَنِ الزَّوَالِ، اللَّهُ دَائِمٌ، إِلَهِي أَحْيِنِي حَيَاةً طَيِّبَةً، وَاسْقِنِي مِنْ شَرَابِ مَحَبَّتِكَ حَتَّى أَشْهَدَ ذَاتَكَ، وَأَعِنِّي عَلَى طَاعَتِكَ، وَحَقِّقْ حَيَاتِي بِكَ يَا حَقُّ يَا وَهَّابُ يَا اللَّهُ.

"Ya Allah, Engkau yang Keberadaan-Mu kekal dengan sendirinya, yang tidak pernah berubah sedikit pun, dan yang Keberadaan-Mu mulia di atas segala yang fana, Allah itu kekal. Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku kehidupan yang baik, dan berikanlah aku minuman cinta-Mu hingga aku bersaksi atas-Mu, dan bantulah aku dalam ketaatan kepada-Mu, serta penuhi hidupku dengan-Mu, wahai Yang Benar, wahai Pemberi, wahai Allah."

Pengalaman Spiritual (Al-Ahwal) pada fase ini

Seorang Wali Allah ta’ala, pemimpin kaum makrifat, Sayyidina Muhyiddin Ibn al-Arabi, semoga Allah menguduskan jiwa dan menerangi makamnya, berkata mengenai penampakan-penampakan (tajalli) Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi di dunia ini kepada para nabi dan wali. Allah berfirman, ”Maka ketika Tuhannya menampakkan diri-Nya kepada gunung itu, Dia menjadikannya rata, dan Musa pun pingsan karena terkejut” (QS Al-A’raf : 143).

Kemudian ketahuilah bahwa penampakan (at-Tajalli) adalah penampakan Allah Yang Maha Suci sebagai cahaya dari cahaya-cahaya nama-Nya, sifat-Nya, atau Dzat-Nya terhadap sebagian hamba-Nya yang selalu berusaha mendekatinya. Penampakan tersebut bisa terjadi secara lahiriah, sebagaimana yang terjadi pada Musa asa, -damai sejahtera atasnya-, dan Nabi kita, serta para nabi agung dan wali-wali yang mulia lainnya.

Dan bisa juga secara batin, yang lebih sering terjadi, dengan asumsi bahwa penampakan di dalam batin itu memunculkan dampaknya ke luar, sehingga menguasai seluruh kekuatan dan indra, maka pada saat itu orang yang sedang menempuh jalan spiritual akan melihat secara langsung bahwa tidak ada pelaku, tidak ada yang digambarkan, tidak ada yang mendengar, tidak ada yang melihat, dan tidak ada yang ada selain Allah ta’ala. Dan terungkap baginya rahasia firman Allah ta’ala : “Segala sesuatu akan musnah/hancur kecuali Akkah ta’ala”. Hal itu karena ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala menampakkan diri-Nya di dalam batin hamba-Nya, hamba tersebut akan menyaksikan cahaya tajalli itu dengan penglihatannya. Semakin sering penampakan itu terjadi, semakin tenggelam batinnya dalam cahaya-cahaya penampakan tersebut hingga pengaruhnya meresap ke dalam indranya. Maka pada saat itu ia tidak melihat kecuali cahaya-cahaya tersebut di semua penampakan, dan ia menyatukan Allah ta’ala dari segalanya, sebagaimana dikatakan oleh seorang Syaikh, semoga Allah ta’ala meridhoinya, "Cahaya yang bersinar dari fajar keabadian, meninggalkan jejaknya pada struktur (anatomi) tauhid.

Kemudian ketahuilah bahwa penampakan (at-Tajalli) itu terbagi menjadi tiga bagian: Bagian pertama berasal dari tingkatan Keilahian, yaitu ketika Allah ta’ala menampakkan diri-Nya kepada sebagian hamba-Nya melalui nama-nama-Nya yang bersifat aktif (fi’ly). Pada saat penampakan itu terjadi, semua sebab yang tampak akan lenyap dari pandangan hamba tersebut, sehingga ia tidak melihat pelaku selain Allah ta’ala; maka akan terungkap rahasia firman-Nya : “Dan Allah-lah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian kerjakan” (QS Ash-Shofat : 96). Inilah penampakan (at-Tajalli) yang bersifat fi’ly.

Lalu, pengalaman siritual (ahwal) yang muncul pada tingkatan keempat ini disebut “al-wasla” (koneksi).

  • Jika seorang Salik melihat dalam mimpinya sebuah bendera, panah, busur, meriam, atau bubuk mesiu, dan sebagainya, hal itu menandakan bisikan-bisikan setan.
  • Jika ia melihat dalam mimpinya sekelompok ulama, para syekh, dan orang-orang saleh, hal itu menandakan ketaatannya kepada Allah Yang Maha Agung,
  • Jika ia melihat seorang sultan, hal itu menandakan perbuatannya sesuai bentuk dan wujudnya.
  • Jika ia melihat Ka’bah al-Musayarafah, Madinah al-Munawwarah, Yerusalem, masjid-masjid, atau madrasah, hal itu menandakan kesucian hati.
  • Jika ia melihat Al-Qur’an yang agung atau melihat diri membacanya, hal itu menandakan kemurnian hati, dan tafsir mimpi tersebut bergantung pada surah yang dibacanya atau dilihatnya,
  • Jika ia melihat para nabi, hal itu menandakan kekuatan akhlak dan mengikuti Islam,
  • Jika ia melihat air yang jernih atau sungai yang mengalir atau laut atau kolam atau istana yang megah atau cermin yang berkilau atau matahari atau bulan atau bintang-bintang atau langit, dan semua ini menandakan kesucian hati. Kesempurnaan kejernihan/kemurnian hal-hal ini menandakan kesempurnaan kejernihan hati, dan berkurangnya kejernihan tersebut menandakan berkurangnya kejernihan hati.
  • Jika ia melihat anggur, kurma, apel, delima, atau semangka hijau, semua ini pada awalnya menandakan penguatan hati dan pada akhirnya menandakan peningkatan dalam pengetahuan ilahi,
  • Jika ia melihat kacang pistachio, almond, dan kenari, jika benda-benda ini mentah, itu menandakan kondisi jalan spiritual, dan jika sudah diolah, itu menandakan pengetahuan ilahi, dan jika masih bersisik, itu menandakan ilmu formal,
  • Jika ia melihat bunga dan melati, itu menandakan kedekatan dengan tujuan, dan jika ia melihat ladang dan nuansa kehijauan, itu menandakan iman dan perbuatan baik, dan panennya setelah matang menandakan wujudnya, dan jika biji-bijian seperti gandum atau lainnya tumbuh, itu menandakan perbuatan baik, Adapun gandum melambangkan pengetahuan spiritual.
  • Jika dalam mimpi atau kenyataan spiritaul ia melihat keledai, ayam jantan, burung merak, burung dara, atau burung bulbul, semua itu menandakan kesibukannya dengan dzikir dan doa-doa harian; menunggangi keledai merupakan kebanggaan baginya.
  • Dan jika ia melihat burung elang atau burung pemangsa sejenisnya, hal itu menandakan bahwa ia telah menjadi salah seorang yang memiliki pengetahuan spiritual.

Referensi Tulisan ini :

Judul Risālat al-sulūk al-khādimah li-jamīʻ al-ṭuruq
Penulis al-Dahhān, ʻAbd al-Qādir. al-Ṭāʼī, Muḥummad Rajab,
Penerbit al-Maṭbaʻah al-ʻIlmīyah, halab
Tahun Cetak 1351 [1932/1933]